UNVR VS ICBP : MANA YANG LEBIH MENGGIURKAN DEVIDEN MAKSIMAL ATAU PERTUMBUHAN LABA NOMINAL

UNVR vs ICBP: Duel Raksasa FMCG—Mana yang Lebih Menggiurkan, Dividen Maksimal atau Pertumbuhan Laba Nominal?

11 Desember 2025 Analis Pasar Keuangan SYAN7

JAKARTA – Pasar modal Indonesia kembali disuguhkan perbandingan menarik dari sektor konsumen. PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) – dua nama yang mendominasi lemari dapur masyarakat Indonesia – menunjukkan jalur kinerja yang kontras di penghujung tahun 2025. Perbedaan mendasar ini tidak hanya terlihat pada angka laba bersih, tetapi juga pada filosofi pembagian keuntungan kepada pemegang saham, yang menjadi penentu utama bagi investor.

Berdasarkan laporan keuangan hingga Kuartal III 2025, kontras strategi antara fokus pada cashflow dividen (UNVR) versus laba nominal (ICBP) semakin jelas.


Kebangkitan UNVR: Momentum Laba dan Komitmen Dividen

Dalam sembilan bulan pertama tahun 2025, UNVR berhasil membalikkan sentimen pasar yang sempat pesimis. Perseroan mencatatkan laba bersih kumulatif sebesar Rp 3,33 triliun, ditandai dengan pertumbuhan positif 10,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

A. Sinyal Pemulihan Kuat

Pertumbuhan laba ini menjadi sinyal penting pemulihan, terutama didorong oleh kinerja luar biasa di Kuartal III (Q3) 2025. Kenaikan efisiensi operasional dan penyesuaian strategi harga membuat laba bersih UNVR di Q3 melonjak tajam hingga 117% secara kuartalan. Hal ini menunjukkan bahwa strategi penataan portofolio produk dan optimasi rantai pasok perusahaan mulai membuahkan hasil di tengah tantangan daya beli.

B. Daya Tarik Dividen yang Tak Tertandingi

Bagi investor, daya tarik utama UNVR selalu terletak pada komitmennya terhadap Dividen Payout Ratio (DPR) yang sangat tinggi, mendekati 100%. Filosofi ini menempatkan UNVR sebagai saham income (pendapatan) premium.

Pengumuman dividen interim sebesar Rp 87 per saham dengan Cum Date pada 12 Desember 2025 adalah bukti nyata komitmen tersebut. Investor yang mengutamakan cashflow rutin dan konsisten menjadikan UNVR sebagai pilar utama portofolio mereka, mengandalkan perusahaan untuk mengembalikan hampir seluruh keuntungan kepada pemegang saham.

Tantangan ICBP: Laba Nominal Besar Dihadang Kurs

Di sisi lain, ICBP, yang merupakan pemimpin absolut di segmen mi instan, menunjukkan dinamika yang berbeda. ICBP membukukan laba bersih nominal yang jauh lebih besar, mencapai Rp 7,11 triliun hingga September 2025.

A. Efek Mata Uang Menekan Bottom Line

Meskipun laba nominalnya besar, kinerja bottom line ICBP tercatat menurun 12,8% secara tahunan (YoY). Penurunan ini bukan disebabkan oleh kinerja operasional yang buruk—faktanya, Laba Usaha ICBP masih tercatat naik 6%. Penekan utama datang dari faktor non-operasional, yakni kerugian selisih kurs yang signifikan akibat pelemahan nilai Rupiah.

ICBP, dengan ekspansi dan utang dalam mata uang asing, rentan terhadap fluktuasi kurs. Analis berpendapat bahwa ICBP tetap mempertahankan posisi dominan di pasar domestik dan luar negeri, namun volatilitas makroekonomi menjadi risiko yang harus diwaspadai investor.

B. Strategi Dividen untuk Pertumbuhan

Berbeda dengan UNVR, ICBP cenderung menerapkan Dividend Payout Ratio (DPR) yang lebih moderat, biasanya di atas 30%. Strategi ini mengindikasikan bahwa manajemen memilih untuk menahan sebagian besar laba untuk reinvestasi, ekspansi, atau mengakuisisi bisnis baru.

Pendekatan ini menarik bagi investor yang memprioritaskan pertumbuhan nilai perusahaan (kapitalisasi) di masa depan. Laba yang ditahan dianggap sebagai modal untuk menciptakan laba yang lebih besar di tahun-tahun mendatang, meski imbal hasil dividennya (yield) tidak setinggi UNVR.

Pilihan Berdasarkan Profil Investor

Perbandingan antara UNVR dan ICBP menawarkan dilema klasik bagi investor:

  1. Jika Anda adalah Income Investor:

    UNVR adalah pilihan utama. Dengan DPR mendekati 100% dan momentum pemulihan laba yang positif, saham ini menjanjikan aliran dividen yang optimal dan stabil, berfungsi layaknya obligasi korporasi dengan potensi kenaikan harga saham.

  2. Jika Anda adalah Growth Investor:

    ICBP lebih cocok. Meskipun tertekan oleh kurs, laba usaha yang masih tumbuh dan potensi reinvestasi laba yang tinggi menawarkan harapan pertumbuhan nilai buku dan harga saham jangka panjang. Laba nominal ICBP yang besar juga menjadi benteng stabilitas di tengah persaingan.

Pada akhirnya, kedua perusahaan tetap menjadi tulang punggung sektor konsumen di BEI. Keputusan investasi yang terbaik terletak pada pemahaman mendalam terhadap profil risiko dan tujuan finansial pribadi investor, apakah mengejar cashflow dividen tahunan atau pertumbuhan kapitalisasi yang agresif.

Tags:
Finance